Menu

Sejauh Mata Memandang for Semanggi Kita

Sejauh Mata Memandang dan Dekranasda DKI Jakarta menyelanggarkan instalasi seni dengan tajuk "Semanggi Kita: Berkarya Untuk Indonesia"

Perkembangan infrastruktur Jakarta kali ini menjadi inspirasi bagi Chitra Subyakto untuk meluncurkan koleksi baru yang sengaja diselenggarakan saat hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 72 dan peresmian simpang susun Semanggi. Dipamerkan pada instalasi seni yang berlokasi di Main Atrium Senayan City, Sejauh Mata Memandang mempersembahkan beberapa motif batik yang dirancang dengan gambaran jembatan Semanggi. 

Dalam ekshibisi seni yang bertema "Semanggi Kita: Berkarya Untuk Indonesia", kali ini Sejauh Mata Memandang bersinergi dengan beberapa instansi seperti Dewan Kerjaninan Nasional Daerah atau Dekranasda Provinsi DKI Jakarta, Bina Marga, PT. Wijaya Karya (WIKA), Mata Studio, dan tentunya mal Senayan City.

Dirancang dengan instalasi yang sangat eksentrik untuk menampilkan koleksi terbaru dari hasil kolaborasi dengan berbagai warga Jakarta. Seperti ilustrasi daun semanggi berhelai empat dan garis marka jalanan di Jakarta, motif baru ini diaplikasikan oleh warga Rusun Marunda, Jakarta Utara yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Di alasi kain katun dengan tehnik batik tulis, koleksi yang dihasilkan ini memiliki beragam warna untuk menghasilkan kain, syal, hingga beberapa pakaian.

Beragam bantal dekorasi dengan hiasan hasil sulaman tangan, ataupun kain batik bermotif Semanggi berwarna khas Betawi juga dipamerkan dalam Semanggi Kita. Berbagai bantal pun dirancang oleh olahan tangan para ibu rumah tangga langsung dari warga Rusun Pekasih, Jakarta Barat, dan Rusun Pulo Gebang, Jakarta Timur.

Sebelum menyiptakan hasil karya untuk Sejauh Mata Memandang, para ibu rumah tangga diberikan pelatihan selama 6 bulan yang diasuh oleh Dekranasda DKI Jakarta untuk mengasah keterampilan mereka menjadi pengarjin batik dan sulam yang terampil. Pun menjadi salah satu misi lini Sejauh Mata Memandang dalam mengutamakan daya para perempuan di Indonesia.

Read more...

Artstage Jakarta 2017: It’s an Art Sign

Hilir mudik tamu yang memadati hall Sheraton Hotel Jakarta Gandaria City pada hari Jumat, 11 Agustus 2017 cukup membuat kami tertegun. Sepertinya apresiasi masyarakat akan karya seni terlihat cukup meningkat dari tahun ke tahun. Kali kedua Art Stage Jakarta kembali diadakan di tempat yang sama, namun antusias para pengunjung sudah terlihat sejak private viewing pukul 15.00 WIB. Sedikit berbeda dengan tahun lalu, yang dirasakan oleh kami, kala itu tamu-tamu baru mulai memadati ruangan saat mendekati waktu pembukaan pukul 19.00 WIB. 

Pendiri dan pimpinan Art Stage, Lorenzo Rudolf, menuturkan bahwa Art Stage tahun 2017 lebih memfokuskan diri terhadap penjualan karya seni. Mungkin ini menjadi salah satu pemicu banyaknya pengunjung yang hadir. Tercatat terdapat 52.240 tamu datang hingga tanggal 13 Agustus 2017. Selama tiga hari, Art Stage Jakarta 2017 memamerkan 60 galeri - 24 dari Indonesia dan 36 galeri dari mancanegara. Termasuk proyek instalasi seni spesial dari salah satu seniman dan musisi muda berbakat dalam negeri, Double Deer.

Beberapa nama galeri ternama Indonesia terlihat bersemangat dalam menunjukkan karya-karya pilihan mereka. Sebut saja D Gallerie yang menyuguhkan berbagai lukisan abstrak lansekap karya seniman asal Amerika, Micah Crandall-Bear, pada bagian depan stand mereka. Tak hanya kontemporer, Gallery Director, Esti Nurjadin, juga ingin memperlihatkan karya-karya maestro klasik dalam area “Frozen in Time” dengan menampilkan sederet koleksi dari Affandi, Basuki Abdullah, Hendra Gunawan, hingga S. Sudjojono yang terpajang menarik.

Di sisi lain, salah satu galeri muda ROH Projects, cukup menarik banyak peminat dengan mengalirkan beberapa seniman andalannya. Mulai dari instalasi seni berupa kayu, besi, dan plexi-glass kreasi Faisal Habibi; karya seni dari Chou-yu Cheng, Gregory Halili, hingga lukisan polesan Syagini.

Salah satu art-space asal Bandung, Lawangwangi, juga turut andil meramaikan Art Stage 2017 dengan mengangkat okultisme melalui karya-karya dari Eddy Susanto. Berbeda cerita dengan okultisme sebelumnya yang ditampilkan di Art Jakarta 2017, di sini sang seniman berusaha menceritakan ramalan Jawa Joyoboyo dengan pesan tersembunyi pada lukisan Leonardo Da Vinci, The Last Supper. Tulisan-tulisan yang terlukis pada tiap karyanya ini dengan cepat menyabet perhatian para pengunjung yang datang untuk melihat lebih dekat.

Sepertinya tak hanya galeri seni yang antusias dalam pameran seni asal Singapura ini, salah satu showroom furnitur Indonesia juga turut mendukung Art Stage 2017. Terlihat produk dari Minoti dari MOIE Living, yang tampil menarik pada salah satu sisi dengan karya seni Antonio S. Sinaga.

Art Stage Jakarta tahun ini banyak diisi dengan banyak rangkaian agenda pendukung. Beberapa di antaranya ialah Art Square. Terletak di atrium Gandaria City, Art Square dipenuhi oleh berbagai label yang dapat memamerkan dan menjual produk mereka serta beberapa stand pameran universitas. 

Tak ketinggalan, Art Stage tahun ini juga ingin memberikan penghargaan berupa the Indonesian Award for Authenticity, Leadership, Excellence, Quality, and Seriousness in Art dalam 13 kategori. Adapun nama-nama pemenang adalah:

Best Artist Melati Suryodarmo;.

Best Young Artist Aditya Novali;

Best Curator Enin Supriyanto;

Best Young Curator Grace Samboh;

Best Gallery and Best Young Gallery ROH Projects;

Best Art Institution IVAA (Indonesian  Visual  Art  Archive);

Best  Exhibition 17/71:  Goresan  Juang  Kemerdekan, Pameran Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan Republik Indonesia, 2-30 Agustus 2016 (Kurator: Mikke Susanto & Rizki A. Zaelani. Didukung oleh Galeri Nasional Indonesia, Sekretariat Negara R.I., BEKRAF, Mandiri Art);

Best Collector Haryanto Adikoesoemo;

Best Young Collector Tom Tandio;

Best Art Publication Martin Suryajaya, Judul Buku: Sejarah Estetika: Era Klasik Sampai Kontemporer, Penerbit: Gang Kabel dan Indie Book Corner, 2016; and S. Sudjojono, Judul Buku: Cerita Tentang Saya dan Orang-orang di Sekitar Saya Penerbit: KPG, Jakarta & S. Sudjojono Center, 2017;

Life Achievement Awards Jim Supangkat (curator), Sunaryo (artist) and Ir. Ciputra (collector);

The Bhinneka Award, a socio-politically significant award Jatiwangi Art Factory.

“Edisi kedua Art Stage Jakarta berlangsung dengan sukses, berkat kerja sama dengan industri seni Indonesia. Hubungan baik ini didasari oleh kepercayaan yang telah berkembang antara pameran dengan pelaku-pelaku seni Indonesia. Art Stage Jakarta telah sukses membangun jembatan antara Indonesia dengan dunia seni internasional yang dapat membantu mengangkat reputasi dan posisi Indonesia dalam pangsa pasar seni di Asia tenggara.” Terang Lorenzo Rudolf, pendiri dan pemimpin Art Stage. Seluruh kegiatan rangkaian acara Art Stage 2017 didukung oleh Mandiri Art dan Bank Mandiri. 

 

 www.artstage.com

Read more...
Subscribe to this RSS feed