Menu

Artisan Loft

Foto: Melanie Tanusetiawan Foto: Melanie Tanusetiawan

Pintu Jawa berukuran kecil adalah hal pertama yang kita lihat saat berdiri di muka pagar. Di sampingnya, sebuah guci berukuran raksasa yang cukup berat untuk dipindahkan. Untuk melewati pintu tersebut, kita harus sedikit awas dengan menundukkan kepala. Tidak cukup tinggi, namun tak terlalu pendek. Cara tersebut mengingatkan kita akan kebiasaan atau budaya rumah tempo dulu yang sederhana dan tak menyentuh kehebatan teknologi sama sekali.


Berbeda dari kolam renang besar dengan pilar kokoh yang menyambut seketika, yang terlihat sangat Kontemporer. Bahkan, dibalik pintu kaca besar berbingkai hitam yang memotong ruang dalam dan bagian luar, desain perabot yang tersaji tidak sama sekali dekat dengan nuansa kultural.

Shirley Gouw adalah desainer dibalik pengerjaan proyek ini. Sebagai pelaku interior yang namanya banyak dikenal atas berbagai proyek bergaya Klasik, tentunya hal ini merupakan angin segar. “Sebelumnya rumah ini dimiliki oleh seorang kolektor seni yang mengumpulkan banyak karya seni seperti lukisan, patung, dan banyak perabot antik. Seketika ia memutuskan pergi, tanpa berpikir panjang saya pun langsung merenovasi kembali”, jelas desainer yang pernah bekerja di firma interior prestisius, Selldorf Architects, New York ini.

Langit-langit rumah yang sangat tinggi dipertahankan. Terlebih barisan lampu sorot yang mengisi sekitaran tembok untuk menembak berbagai karya seni pajangan. “Agar desain rumah ala loft apartment Soho di New York dan nuansa galeri tidak hilang, saya mempertahankan seluruh sudut dengan bukaan yang lebar. Demikian juga dengan tingginya plafon”, ujarnya. Lukisan, patung di atas pedestal, hingga rak-rak berisi aksesori ornamental memang terlihat mengisi sekeliling tembok hunian.

Denah rumah direncana ulang sesuai kebutuhan ruang sehingga lebih terasa privat dan mengalir. Berusaha menangkap pemandangan taman rumah yang sengaja dibuat rimbun di sekelilingnya, setiap kamar dikelompokkan secara simetris menghadap halaman belakang. Konsep yang terbuka ini sendiri berusaha membuat hunian di tengah Jakarta untuk ramah ditinggali, serta dapat dikategorikan sebagai rumah liburan.

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

back to top