Menu

Living Colour

Foto: Melanie Tanusetiawan Foto: Melanie Tanusetiawan

Pernah menikmati segelas plain yogurt? Warnanya putih seperti kertas, terlihat sederhana saja. Seketika Anda menikmatinya, lidah seakan sedang menerima guncangan rasa asam yang meledak-ledak. Analogi ini terlihat cukup untuk menjelaskan reaksi seketika kami mengunjungi rumah ini.

Jika Anda tinggal di perkotaan yang sedang berkembang pesat seperti Jakarta, mungkin Anda tak akan percaya jika rumah ini terletak di salah satu sudutnya. Bagaimana tidak, selain desain yang cukup mengagetkan dan penuh selera. Hunian ini menyajikan slide pemandangan hijau yang cukup alami. Sebut saja sekumpulan pohon pisang, ilalang pedesaan, hingga pohon-pohon berdaun besar tersebar rata dihadapannya.

Belum lagi suara aliran air yang jatuh melalui mulut enam patung manusia kerdil di kolam renang privat. Selain mengingatkan akan suasana vila di Bali yang sepi, kami merasa rumah ini sangat kondusif bagi pekerja sibuk di tengah kota metropolitan.

Adalah Nita, pemiliki rumah yang menyambut kedatangan kami dengan sangat ramah. Dari caranya berbicara saja, pastinya ia adalah pecinta seni yang fanatik. Terbukti dari perbincangan awal singkat yang seketika mengarahkan obrolan kami mengenai seni dan desain yang begitu diminatinya. Karena semakin penasaran, kami pun tak segan menanyakan setiap barang yang tersaji di setiap sudut ruang.

“Lihat Mickey Mouse itu, kami menemukan edisi asli tahun 50-an itu dari sebuah flea market di Perancis Selatan”, ungkapnya dengan penuh senyuman. Mungkin, apapun barang antik dan menarik yang ditemuinya saat berpergian, langsung menjadi penumpang tetap di kopernya saat pulang.

“Saya cukup berbeda dari beberapa perempuan lain yang berpergian dan pulang membawa tas mahal. Saya lebih tertarik dengan barang-barang bernilai seni. Apapun bentuknya, siapapun seniman yang membuatnya”, ucap perempuan yang menuntaskan pendidikan dalam bidang manajemen ini. Dari cerita yang disampaikan, terlihat bahwa entusiasme terhadap benda seni telah membuatnya menghargai setiap karya yang ada. Bahkan, beberapa karya seniman yang belum terlalu dikenal telah ia koleksi. Baik lokal maupun mancanegara. Terbiasa mengumpulkan sesuatu yang bernilai lebih bukan berarti tak menghargai setiap karya yang lahir dari tangan seniman baru.

Kendati melihat banyak karya seni yang bertebaran, kami mendapati sebuah studio lukis yang berada di tengah hunian. Kami pun meyakini lukisan yang menggantung pada ruang ini adalah karya yang dikerjakan juga dari tempat ini. Nita pun mengiyakan pernyataan kami. Ternyata, kreativitas dan kepekaan seni juga mendarah pada suaminya.

Tak diragukan lagi bagaimana sebuah rumah ini nampak menawan. Bukan dari pendidikan seni formal, keduanya mengumpulkan dan menata setiap benda yang didapat dengan penuh ketelitian. Bahkan, mereka mengerjakan sendiri arsitektur hunian tiga lantai ini. Mengarahkan setiap pekerja proyek setiap hari, merupakan pekerjaannya satu tahun lalu di saat memulai membangun rumah ini.

Kini, yang terlihat adalah hasil imajinasi dan kemampuan otodidak yang membuat siapapun akan terkesima. Kontemporer dengan elemen pop yang meledak. Bukan hanya perabot berwarna-warni yang ditata dalam porsi yang pas, namun unsur kejutan seperti gaya industrial dari tangga bermaterial besi, hingga paduan perabot eklektik di area meja makan.

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

back to top