Menu

Modern Ambitions

Foto: Melanie Tanusetiawan Foto: Melanie Tanusetiawan

Terletak di kawasan sibuk Jakarta, siapa sangka jika apartemen bergaya Modern ini berasal dari bangunan lama yang kemudian dirombak oleh sang desainer, Stanley Marcellius. Transformasi ruang yang diberikan tak berusaha memaksakan denah yang telah ada. Namun melalui pemilihan material yang teliti, penampilan ruang disulap dengan garis-garis yang lebih Modern, rapi, dan jauh dari kesan rumit. Penataan ulang perabot membuat suasana menjadi terkelompok dengan baik sekaligus efisien.

Pintu lift merupakan akses utama yang dibuka saat kami berkunjung. Suasana yang amat privat pun sekejap muncul dalam benak. Barangkali tak benar jika keadaan ruang yang sekilas tergambar akan nampak dingin dan kaku. Walau Modern, kenyataannya tempat peristirahatan kedua bagi keluarga kecil ini dirancang lenggang dan tenang. Bak lokasi persembunyian retreat di kota metropolitan.

Ambisi yang diciptakan Stanley tak jauh dari menata hunian yang mengambil ide penuh dengan unsur kekinian.“Ini bukan Minimalisme. Ini Modern yang terasosiasi dengan efisiensi, terbuka, praktis, dan era yang sedang kita alami”, jelasnya di sela pemotretan. Terlihat saat ia membantu kami menata. Stanley sangat fasih membelokkan beberapa barang yang tak sejajar menjadi teratur. Menandakan dirinya sebagai seorang peminat komposisi yang rapi, tertata, dan menomorsatukan fungsi.

Menjalani pendidikan di Australia, membuat ia cukup gemar mengambil inspirasi desain dari suasana kota-kota besar di sana. Melbourne menjadi salah satu kota yang ditirunya untuk mendesain apartemen. Kondisi modern yang berbudaya diadaptasinya dalam hunian ini.

Sebagai kota yang banyak mendapat predikat “World's Most Liveable City”, seni rupanya menjadi jantung masyarakat di sana. Terlihat dari banyaknya bangunan yang masih terkonservasi dengan baik, dan imbuhan interior atau arsitektur Modern. Kita bisa menemukan segalanya seperti kafe bergaya Eropa, hingga nuansa yang sangat pecinan. Bahkan, walau memiliki banyak gedung pencakar langit, keadaan masih terlihat ramah.

Maka apartemen seluas 296 m2 ini pun diusahakan berubah wajah dari yang awalnya berusia tua menjadi baru. Malahan beberapa unsur dekoratif klasik sengaja dipakai. Terutama jika cukup jeli melihat dari bagian luar bangunan. Bingkai jendela dibiarkan klasik. Yang nampak dari dalam apartemen justru telah dipoles ulang menggunakan lis berwarna hitam.

Keabsahan gaya modern yang murni pun tak perlu diragukan lagi walau menyertakan beberapa elemen pendukung yang cukup dinamis, seperti bed-cover kamar tidur dan lukisan lautan dari Jepang di meja makan. Tak dapat dipungkiri pula, salah satu yang mempengaruhi adalah karakter penghuni yang turut campur dalam menyusun hunian bergaya Modern ini. "Style gets personal," tambahnya.

Berperan sebagai hunian vertikal, tanpa bisa menolak, kehadiran balkon di setiap jendela adalah berkat yang pantas dinikmati siapapun yang duduk bersantai di ruang berkumpul apartemen ini. “Saya dan pemilik mengakui sendiri bahwa inilah ruang favorit kami”, sambil duduk dan memandang landscape perkotaan Jakarta. “Selain itu, karena kegemaran meracik teh sendiri, klien sempat meminta saya untuk membuat corner untuk mewadahi hobinya tersebut”, jelasnya sambil menunjukkan seperangkat set teko teh antik.

Lukisan perempuan oriental di atas kanvas dijadikannya sebagai “tanda” yang tampil samar namun cukup menjelaskan. Sedang, meja buatan khusus untuk membuat teh, tersanding tepat di bagian sampingnya. 

Proses kreatif yang tertuang pada proses desain hunian ini melibatkan seorang klien yang sangat komunikatif dan hal itu diakui oleh Stanley. “Desainer dan klien perlu mengerti sama lain. Sebagai pelaku, saya tak boleh begitu saja bersikukuh terhadap idealisme. Toh pada akhirnya, klien lah yang akan menentukan”, jelas penghobi masak yang telah meneruskan hobinya untuk berbagi di dunia maya ini – Anda dapat melihat di kokiku.tv.

Tak begitu saja membiarkan, Stanley memiliki trik khusus. “Saat proposal awal, mereka perlu diingatkan karya portfolio kita sebelumnya sehingga cukup menentukan apakah gaya dan karakter kita yang mereka inginkan. Selain itu, di tengah proses kita harus dapat mengedukasi klien, apa yang sedang tren dan apa yang old school untuk dijadikan bahan pertimbangan”, tutupnya.

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

back to top