Menu

The New Yorker

Memiliki properti mewah tidak melulu harus di atas tanah luas, dengan rancangan yang tepat, ilusi kelapangan dapat terjalin dengan sendirinya. Upaya ini cukup sukses dilakukan Shirley Gouw, dalam membuat salah satu hunian karyanya. Terbangun di atas tanah seluas 360 meter persegi, rumah yang disebut sebagai Rumah Suren ini memiliki pembagian ruang dan bentuk arsitektur yang tinggi, sehingga hunian karyanya ini terlihat lapang dan elegan. Dengan tetap berkiblat pada gaya Klasik, sang desainer kali ini menggunakan rumah ala town house New York sebagai inspirasinya. Sontak, tampak depan bangunannya yang disambut sederet anak tangga ini terlihat menyolok dari bangunan di sekitarnya. 

Saat mendesain rumah Suren, perempuan yang memiliki hobi yoga bikram ini ingin memberi pandangan dan konsep baru bahwa walau memiliki lahan yang terbatas pun, rumah masih tetap terlihat cantik dan juga fungsional. Semua elemen yang ada pada rumah Suren ini berbeda dengan rumah pada umumnya ada di Jakarta. Dari segi denah, fungsi ruang, dan pemisahan ruang belakang serta dapur, rumah ini serasa hanya "milik" sang pemilik karena ruang servis yang terisolasi dan akses menuju masuk hanya melalui satu pintu.

Selain ruang-ruang pada umumnya, terdapat beberapa ruang tambahan lainnya, seperti ruang tidur tamu yang dapat digunakan sebagai den atau ruang kerja, hingga perpustakaan. Berbagai ruangan ditatanya hingga terasa compact dan nyaman, tanpa membuatnya terlihat sesak sedikit pun. Ciri khas rumah-rumah bergaya Klasik Amerika juga terlihat di dapur yang bernuansa putih. Ruangan yang menjadi menjadi favorit dari rumah Suren ini dilengkapi dengan area makan sofa yang dapat digunakan sebagai tempat berkumpul sarapan pagi atau tea room di sore hari. Desainnya yang menarik dan terang, terlihat cocok menjadi “nook” nyaman untuk meluangkan waktu karena posisinya yang tepat di depan courtyard.

Kepala desainer Elite Grahacipta ini memperhitungkan dan merancang semua detail dengan matang pada rumah Suren. Terlihat dari ukiran cornice gipsum, warna dinding, hingga bentuk potongan marmer pada dinding dan plin kamar mandi yang terancang dengan rapi dan sempurna. Ia pun menghadirkan pola lantai kayu herringbone yang biasa dijumpai pada rumah-rumah antik di Eropa. Tidak tanggung-tanggung, untuk menghasilkan nuansa Klasik yang lebih terasa, perempuan lulusan lulusan Parsons School of Design New York ini juga menutup mesin pendingin ruangan dengan ornamen grill yang senada dengan profil, sehingga ruangan terlihat bersih dan rapi. Kematangan dan kejeliannya dalam merancang membuat rumah Suren memiliki desain dan detail yang berbeda dan belum pernah dilakukan sebelumnya. 

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

back to top