Menu

Nobu Hotel Shoreditch, Inggris

Mengingat tahun 1800 di saat warga Jepang tiba di Peru, banyak kultur baru yang bermunculan disana, salah satunya ialah istilah Nikkei, dengan artian keturunan Jepang yang besar diluar negaranya. Selain kultur, warga Jepang juga mengombinasikan makanan khasnya dengan bumbu Peru, dan kehadiran jamuan baru ini dikategorikan sebagai santapan khas Nikkei. Beberapa juru masak masih mengangkat menu Nikkei dan mengembangkannya seiring perkembangan zaman. Salah satunya adalah juru masak asal Jepang yang telah lama tinggal di Peru, Nobuyuki Matsuhisa. 

Keahliannya memasak membuat Nobuyuki memiliki banyak tempat makan di berbagai belahan dunia. Salah satunya restoran yang terletak di Beverly Hills, yang membuat karirnya semakin menanjak. Siapa yang menyangka aktor ternama Robert De Niro saat menjumpai restoran milikinya, ia tanpa ragu mengajak Nobu untuk bersinergi dalam membuka tempat makan baru. Atensi masyarakat terhadap hasil racikan Nobu pun terus meningkat. Keduanya kerap berkolaborasi hingga saat ini, salah satunya proyek bersamanya baru saja dibuka sebagai tempat penginapan pertama yang berlokasi di Shoreditch, London, dan dinamakan dengan Nobu Hotel Shoreditch.

Nobu Hotel Shoreditch melibatkan dua firma arsitektur yaitu Ron Arad Associates dan Ben Adams Architects. Bangunan tampil dengan fasad yang mampu menarik perhatian para wisatawan ataupun warga lokal yang sedang berjalan di Willow Street. Sebagai keturunan Jepang, Nobu ingin membawa sentuhan Jepang didalamnya. Pola geometris dari polesan tinta sumi-e diimplementasikan dalam Interior hotel dengan menggandeng Studio Ica dan Studio Pch. Di dalam 148 kamar tidur, seniman asal Jepang Sichi dengan karyanya Taizi membuat tembok yang berdiri tegak dan dapat digeser. Dengan hotel barunya, Nobu ingin menawarkan pengalaman menginap di bangunan yang menggabungkan konsep industrial Shoreditc dengan sentuhan seni Jepang serta jamuan khas Nikkei hasil racikannya.

Read more...

Artotel, Yogyakarta

Artotel Group baru saja meluncurkan tempat penginapan teranyar yang berlokasi di Yogyakarta dengan mengajak enam seniman lokal beraliran modernisme.

“Pertama kali kita meluncurkan Artotel, saya sudah menilai kalau lini hotel ini sangat pas sekali untuk kota Yogyakarta.” Tutur Erastus Radjimin selaku Chief Executive Office Artotel Group disaat membuka tirai hotel barunya yang terletak di Jl. Kaliurang Yogyakarta. Bukan hanya sebagai kota yang berpengaruh bagi karya seni lokal, namun lokasinya yang ramai akan para mahasiswa dan kaum urban Yogyakarta, menjadi peluang bagi grup Artotel untuk menawarkan tempat penginapan yang dapat memenuhi kebutuhan warga sekitar dan para turis tentunya.

Walaupun APA Architect membangun tempat penginapan berfasad Modern yang didominasi oleh warna hitam, Artotel Yogyakarta menuangkan unsur budaya lokal untuk kediamannya, dengan memilih material anyaman yang diakui memiliki filosofi kuat dan kokoh karena tekhnik jalinannya untuk membalut bangunan teranyar.

Melihat kawasan sekitarnya yang diisi oleh beberapa tempat komersil, Artotel Yogyakarta mengajak Studio Domisilium sebagai perancang interior desain untuk menghadirkan ruangan yang merepresntasikan konsep keselarasan dalam harmoni. “Design it’s very, very, very important for hotels.” Lanjut Erastus Radjimin. Oleh sebab itu, dirinya menyetujui ide sang desainer dalam menyediakan seluncuran bermaterial kuninggan solid yang dilengkapi dengan matras tipis untuk menggantikan akses tangga dari lantai 2 ke area lobi. Akses ini dikatakan sebagai pengalaman baru yang dapat dirasakan para tamu yang sedang bersinggah atau sebatas berkunjung ke kediaman barunya. 

Kehadiran hotel keempat yang juga dinaungi oleh bendera Rasanto Group, Artotel tetap mengelolah lininya dengan menarapkan dukungannya terhadap seminal lokal untuk menuangkan karyanya kepada masing-masing lantai. Dengan bantuan kurator Heri Pemad, Artotel Yogyakarta dapat berkolaborasi dengan ke enam seniman yaitu Fathoni Makturodi, Soni Irawan, Apri Kusbiantoro, Uji Hahan, Ronald Aprian, dan Tempa untuk menuangkan kepiawannya di kanvas besar atau dinding hotel terhitung 105 kamar dengan konsep yang mengangkat kisah-kisah sejarah yang diilustrasikan dengan aliran modernisme.

 

Read more...

Hotel Whistler, Paris

Hotel Whistler memberikan akses terbatas untuk para wisatawan yang ingin merasakan bermalam di lokomotif dengan atmosfir Art Deco pada abad 21.

Sebagai seorang penulis yang sudah dikenal, Agatha Christie ataupun Ian Fleming pandai memainkan kata-kata untuk menarik imajinasi para pembaca, terutama Christie pada kisah di Orient Express yang mendeskriprsikan kereta ekslusif dengan penataan Art Deco. Ada yang menyebutnya dengan istilah midnight blue train dikarenakan banyaknya palet warna biru yang terlalu mendominasi ruangan. Pun merupakan salah satu cara Jim Clay sebagai produk desainer film Murder on Orient Express menyiptakan lokomotif yang sangat autentik untuk menarik hasrat penonton.

Bagi beberpa penyimak yang terbawa oleh penataan mewah Jim Clay, salah satu seniman atau bisa dikatakan sebagai interior desainer turunan Belgium dan Lebanon Sandrine Alouf mewujudkan tempat penginapan yang berlokasi di Gare du Nord, Paris dengan memainkan banyak panel dan dingin berlapis kain untuk yang ingin merasakan pengalaman berada di kereta dengan atmosfir ekslusif abad ke 21. Misterius namun luks untuk penginapan yang baru saja membuka tirainya di akhir tahun 2017.

Layaknya sebuah kereta yang tidak berjalan, Whistler sebagai hotel memberikan pengalaman berbeda dari jajaran butik hotel lainnya. Material bludru, kain, kulit, ataupun kuningan yang telah dipoles menghidupkan suasana kamar tidur dengan sentuhan dekorasi saat masa emas pada 31 'kabin' terbatas yang ditawarkan. Memang menjadi tamu istimewa ditempat penginapan penuh kejutan tidak mudah dirasakan oleh sembarang wisatawan, hanya beberapa turis terpilih yang mendapatkan akses khusus untuk bermalam di kabin untuk perjalanan yang tak terduga. Klik disini untuk melihat ekshibisi seni kontemprer dari ROH Project.

Read more...

How To Live Like Singaporean

Bukan sekadar liburan ala turis, namun benar-benar menikmati Singapura ala penduduk lokal dapat dirasakan dengan bantuan Village Passport

Memang terkadang merasakan hal yang berbeda saat bervakansi mampu memberikan cerita baru untuk perjalanan para wisatawan. Terhitung negeri Singapura, banyak wisatawan yang berdatangan untuk merasakan hal yang bebeda dari tempat asalnya, seperti merasakan kehidupan modern, mencoba sentuhan makanan khas Singapura, ataupun menikmati racikan minuman segar. Kegiatan yang lumrah untuk dilakukan seperti ini dapat menimbulkan sifat repetitif. Untuk menghindari kegiatan monoton, mengubah pejalanan berkujung ke Singapura kali ini dengan mencoba pengalaman baru yang berbeda dari biasanya, pengelola hotel dan pelayanan residensial terkemuka di Singapura, Far East Hospitality menawarkan pengalaman bereksplorasi di kota Singapura dengan seakan menjadi warga lokal. Mulai dari tempat penginapan, kegiatan kuliner, bermain, edukasi, hingga berbicara dengan kosa kata warga lokal Singapura diberikan dalam wujud paspor khusus para tamu yang menginap di hotel Village Hotel Katong dan Village Hotel Bugis. Simak ulasan dari Village Paspport dengan tajuk Living Like A Local yang sengaja dilansir untuk memudahakan turis asing dalam berjelajah negeri Singapura selayak warga lokal.

Village Hotel Katong

Jika Anda memilih untuk bersinggah di Village Hotel Katong, lokasinya yang bertempatan di kawasan historial ini memiliki sentuhan budaya khas peranakan. Untuk perjalanan yang tercatat pada wilayah setempat, Passport Village Bugis merekomendasikan beberapa destinasi untuk menjadi warga lokal Singapura. Tempat kuliner dari Kim Choo Kuch Chan yang menawarkan Nyonya dumpling, ataupun XO traditional dumpling, hingga cita rasa laksa dari 238 Katong Laksa memiliki jarak yang berdekatan dengan hotel. Jika Anda ingin merasakan racikan segar Rabbit Carrot Gun, Alilababar the Haeker Bar, ataupun Mel's Place mampu memulihkan energi Anda. Jika Anda sempat melihat I12 Katong, Parkway Parade, pun merupakan destinasi yang dapat memberikan hiburan yang berbeda. Seperti menyimak tayangan theater, dan pusat perbelanjaan. Bagi Anda yang memilih untuk rekreasi bersama keluarga, East Coast Park dengan jarak tempuh 25 menit dari hotel dapat menjadi pilihan.

Village Hotel Bugis

Tidak hanya sebagai hotel yang pas untuk keluarga, Village Hotel Bugis juga dikepungi oleh beberapa pusat hiburan mulai dari tempat makan, tempat perbelanjaan, bahkan bazaar yang menawarkan pernak pernik untuk buah tangan dapat Anda jumpai dengan jarak yang mudah diakses. Tak heran Village Hotel Bugis dapat dikatakan sebagai hotel yang terletak dipusat kegiatan kawasan Bugis. Arab Street, Haji Lane, dan Bugis Street. Ketiga kawasan yang banyak menawarkan produk-produk dengan harga yang bersahabat. Mulai dari dekorasi rumah khas Persia, hingga butik-butik pakaian yang memiliki banyak variasi dapat Anda kunjungi dari ketiga kawasan yang terkenal "ramai".  Bagi Anda yang mungkin memiliki pilihan lain selain berbelanja, meluangkan waktu untuk mengetahui sejarah dan warisan kota Singapura pada Malay Heritage Centre yang sudah hadir selama 160 tahun dan didirikan oleh Sultan Ali, anak dari Sultan Hussein Shah, Masjid Sultan yang dapat menampung 5.000 pemuja, dan Jamal Kazura Aromatics untuk Anda yang ingin menciptakan pengharum ruangan dengan racikan Anda sendiri.

Read more...
Subscribe to this RSS feed