Menu

Artotel, Yogyakarta

Artotel Group baru saja meluncurkan tempat penginapan teranyar yang berlokasi di Yogyakarta dengan mengajak enam seniman lokal beraliran modernisme.

“Pertama kali kita meluncurkan Artotel, saya sudah menilai kalau lini hotel ini sangat pas sekali untuk kota Yogyakarta.” Tutur Erastus Radjimin selaku Chief Executive Office Artotel Group disaat membuka tirai hotel barunya yang terletak di Jl. Kaliurang Yogyakarta. Bukan hanya sebagai kota yang berpengaruh bagi karya seni lokal, namun lokasinya yang ramai akan para mahasiswa dan kaum urban Yogyakarta, menjadi peluang bagi grup Artotel untuk menawarkan tempat penginapan yang dapat memenuhi kebutuhan warga sekitar dan para turis tentunya.

Walaupun APA Architect membangun tempat penginapan berfasad Modern yang didominasi oleh warna hitam, Artotel Yogyakarta menuangkan unsur budaya lokal untuk kediamannya, dengan memilih material anyaman yang diakui memiliki filosofi kuat dan kokoh karena tekhnik jalinannya untuk membalut bangunan teranyar.

Melihat kawasan sekitarnya yang diisi oleh beberapa tempat komersil, Artotel Yogyakarta mengajak Studio Domisilium sebagai perancang interior desain untuk menghadirkan ruangan yang merepresntasikan konsep keselarasan dalam harmoni. “Design it’s very, very, very important for hotels.” Lanjut Erastus Radjimin. Oleh sebab itu, dirinya menyetujui ide sang desainer dalam menyediakan seluncuran bermaterial kuninggan solid yang dilengkapi dengan matras tipis untuk menggantikan akses tangga dari lantai 2 ke area lobi. Akses ini dikatakan sebagai pengalaman baru yang dapat dirasakan para tamu yang sedang bersinggah atau sebatas berkunjung ke kediaman barunya. 

Kehadiran hotel keempat yang juga dinaungi oleh bendera Rasanto Group, Artotel tetap mengelolah lininya dengan menarapkan dukungannya terhadap seminal lokal untuk menuangkan karyanya kepada masing-masing lantai. Dengan bantuan kurator Heri Pemad, Artotel Yogyakarta dapat berkolaborasi dengan ke enam seniman yaitu Fathoni Makturodi, Soni Irawan, Apri Kusbiantoro, Uji Hahan, Ronald Aprian, dan Tempa untuk menuangkan kepiawannya di kanvas besar atau dinding hotel terhitung 105 kamar dengan konsep yang mengangkat kisah-kisah sejarah yang diilustrasikan dengan aliran modernisme.

 

Read more...
Subscribe to this RSS feed